BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pemikiran dan Pembuktian Penyimpulan deduksi yang telah kita ketahui sekedarnya dapat kita laksanakan melalui teknik-teknik silogisme. Silogisme merupakan bentuk penyimpulan tidak langsung, karena dalam silogisme kita menyimpulkan pengetahuan baru yang kebenarannya diambil secara sintesis dari dua permasalahan yang dihubungkan dengan cara tertentu.
Silogisme ialah penarikan konklusi secara tidak langsung dengan menggunakan dua buah premis yang merupakan bentuk formal penalaran deduktif. Aristoteles membatasi silogisme sebagai: argumen yang konklusinya diambil secara pasti dari premis-premis yang menyatakan permasalahan yang berlainan. Proposisi sebagai dasar kita mengambil kesimpulan adalah proposisi yang mempunyai hubungan independen dan term persamaan. Dua permasalahan dapat kita tarik konklusinya manakala mempunyai term yang menghubungkan keduanya. Disamping itu untuk dapat melahirkan konklusi harus ada pangkalan umum tempat kita berpijak.
Pangkalan umum ini harus kita hubungkan dengan permasalahan yang lebih khusus melalui term yang ada pada keduanya, maka lahirlah konklusi. Ketentuan ini berlaku untuk semua silogisme. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Apakah yang dimaksud dengan kemungkinan-kemungkinan silogisme? Dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami kemungkinan-kemungkinan silogisme. Sehingga dapat berfikir dan pandai menalar secara objektif, rasional dan kritis, yang mampu membedakan yang benar dan yang salah.
B. Rumusan Masalah
1 Apakah yang di maksud dengan akhlak?
2 Seperti apakah pertumbuhan ilmu akhlak di luar islam?
3 Siapakah yang mengarang sejarah dan pertumbuhan ilmu akhlak?
C. Tujuan
Berdasarkan Rumusan Masalah penelitian di atas, tujuan pembuatan makalah ini selain tugas kelompok mata kuliah ilmu akhlak tasawuf juga bagaimana kita (Mahasiswa) dapat memahami bagaimana awal mula adanya sejarah dan perkembangan ilmu akhlak.
D. Kegunaan
Adapun manfaat atau kegunaan makalah ini adalah:
- secara teoritis dapat menambah wawasan pengetahuan dalam bidang ilmu akhlaq tasawuf, hususnya tentang sejarah dan pertumbuhan ilmu akhlak dan Pembuktian yang sesungguhnya secara riil.
- secara praktis diharapkan dapat berguna bagi kita semua, Mahasiswa STAIN Jurai Siwo Metro, khususnya buat teman-teman satu kelas dalam memahami materi dan Pembuktian dalam mata kuliah ilmu akhlak tasawuf.
E. Metode Pembuatan Makalah
Jenis dalam pembuatan makalah ini adalah kajian Pustaka, yaitu kajian dengan dengan mencari data keperpustakaan kampus mauapun sumber buku dari teman-teman yang mempunyai materi kaitannya dengan pembahasan tersebut diatas, sehingga yang sudah penulis dapatkan kemudian penulis mengumpulkan dan membuatnya menjadi sebuah makalah.
BAB II
A. PENGERTIAN AKHLAK
“akhlaq”berasal dari bahasa arab akhlaqu yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluku secara bahasa akhlak mempunyai arti budi, pekerti, tabiat, watak.dalam kebahasaan akhlak sering di sinonimkan dengan etika moral[1].
Sedangkan menurut istilah,akhlak di devinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
· Prof.dr.ahmad amin mendevinisikan akhlak sebagai kehendak yang di lakukan.artinya segala sesuatu kehendak yang terbiasa dilakukan,di sebut akhlak
· Sementara itu ibnu maskawaih mengemukakan devinisi sebagai berikut:
Perilaku jiwa seseorang yang melakukan kegiatan-kegiatan tanpa melalui pertimbangan (sebelumnya).
· Sedangkan al-ghozali memberikan devinisi akhlak adalah, segala sifat yang tertanam dalam hati,yang menimbulka kegiatan-kegiatan dengan ringan dan mudah tanpa memerlukan pemikiran sebagai pertimbangan.
A. SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK
Ilmu akhlak yaitu ilmu yang membahas tentang tingkah laku manusia untuk dinilai apakah perbuatan tersebut tergolong terpuji, mulia, atau sebaliknya, yakni buruk, hina dan tercela. Selain itu dalam ilmu ini dibahas pula ukuran suatu kebahagiaan, keutamaan, kebijaksanaan, keindahan dan sebagainya.
Sejak dahulu hingga sekarang dan bahkan sampai akhir zaman, manusia selalu hidup berkelompok dan mengadakan hubungan dengan sesame manusia. Itulah sebabnya manusia disebut mahluk social. Manusia mau mengaakan hubungan baik dengan sesama manusia karena adanya kesadaran bahwa dirinya tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan pihak lain.
Dengan adanya hubungan timbale balik yang baik, manusia dapat saling memenuhi kebutuhan hidupnya. Hubungan baik yang diajarkan Islam bersifat menyeluruh, baik terhadap orang tua, remaja, maupun dengan yang lebih muda. Hubungan baik tersebut harus dibuktikan dalam perilaku hidup sehari-hari, yakni akhlak[2]
Tapi, tahukah anda kapan persoalan-persoalan akhlak tersebut muncul? Siapakah tokoh-tokoh yang mengemukakan pembicaraan mengenai berbagai masalah akhlak tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan data-data dan fakta-fakta sejarah. Nantinya pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak akan dibahas melalui 2 pendekatan. Yakni melalui pendekatan kebangsaan dan religi.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan data-data dan fakta-fakta sejarah. Nantinya pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak akan dibahas melalui 2 pendekatan. Yakni melalui pendekatan kebangsaan dan religi.
Dalam kaitannya dengan hal ini, akan dibahas mengenai sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak dengan pendekatan religi, yaitu: pertama, pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak di luar ajaran Islam. Kedua, pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak di dalam ajaran Islam. Pembahasan tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan tentang Ilmu Akhlak baru kita jumpai dalam karya Ahmad Amin berjudul al-Akhlak.[3]
B. ILMU AKHLAK DILUAR AGAMA ISLAM
1. Ilmu Akhlak pada Agama Yunani
Munculnya pembahasan ilmu akhlak di bangsa Yunani ditandai dengan munculnya kaum Sophisticians (500-450 SM) yaitu orang-orang bijaksana (sufisem artinya orang-orang yang bijak). Sebelum munculnya kaum tersebut, pembicaraan mengenai akhlak tidak dijumpai dalam bangsa Yunani, karena pada masa itu perhatian merekan tercurah pada penyelidikan mengenai alam.
Dasar yang digunakan pemikir Yunani dalam membangun ilmu akhlak adalah filsafat tentang manusia, atau pemikiran tentang manusia. Ini menunjukkan bahwa ilmu akhlak yang mereka bangun lebih bersifat filosofis, artinya filsafat yang bertumpu pada kajian secara mendalam terhadap potensi kejiwaan yang terdapat dalam diri manusia atau bersifat anthroposentris, dan mengesankan bahwa masalah akhlak adalah sesuatu yang fitri, yang aka nada dengan adanya manusia sendiri dan hasil yang didapatnya adalah ilmu akhlak yang berdasarkan pada logika tanpa adanya aspek agama dalam pemikiran tersebut.
Namun hasil pemikiran tersebut tidak sepenuhnya salah, karena manusia secara fitrah telah dibekali dengan potensi bertuhan, beragama dan cenderung pada kebaikan, disamping itu juga memiliki kecendrungan kepada keburukan, dan ingkar pada Tuhan. Namun kecenderungan kepada yang baik, bertuhan dan beragama jauh lebih besar dibandingkan kepada buruk.[4]
Pandangan dan pemikiran filsafat yang dikemukakan para filisof Yunani itu secara redaksional berbeda-beda, tetapi substansi dan tujuannya sama, yaitu menyiapkan angkatan muda bangsa Yunani, agar menjadi nasionalis yang baik lagi merdeka dan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah air.[5]
Filosof Yunani pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 SM). Socrates dianggap sebagai perintis ilmu akhlak di Yunani. [6]Golongan yang lahir setelah Socrates dan mengaku sebagai muridnya adalah Cynics dan Cyrenics. Golongan Cynics dibangun oleh Antithenes yang hidup pada tahun 444-370 SM. Ajaran ini sedikit berbeda dengan ajaran Socrates. Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan, dan sebaik-baiknya manusia adalah orang yang berperangai ketuhanan.[7]
Pada tahap selanjutnya datanglah Plato (427-347 SM). Ia seorang filsafat Athena dan murid dari Socrates. Ia telah menulis beberapa buku. Di antaranya bukunya yang mengandung ajaran akhlak adalah Republik. Pandangannya dalam bidang akhlak berdasarkan pada teori contoh. Menurutnya bahwa apa yang terdapat pada yang lahiriah ini atau yang tampak ini hanya merupakan bayangan atau fotocopy.
Setelah Plato, datanglah Aristoteles (394-322 SM). Sebagai murid Plato, Aristoteles berupaya membangun suatu aliran yang khas dan para pengikutnya disebut dengan kaum Peripatetics, karena ia memberi pelajaran sambil berjalan, atau karena ia mengajar di tempat yang teduh. Dia berupaya menyelidiki akhlak (Moral) secara mendalam dan menuangkannya dalam bentuk karya tulis.
Aristotoles berpendapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia dari apa yang dilakukannya adalah bahagia atau kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan ini adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya. [8]
2. Ilmu Akhlak pada Agama Nasrani
Menurut ajaran Nasrani, bahwa agama tersebut adalah bersumber dari akhlak. Tuhanlah yang menentukan dan membentuk patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Tuhanlah yang menjelaskan baik dan buruk. Menurut agama ini yang disebut baik adalah perbuatan yang disukai Tuhan, dan sebaliknya yang disebut buruk adalah perbuatan yang tidak disukainya.
Pada akhir abad ketiga Masehi tersiarlah agama Nasrani di Eropa. Agama ini telah berhasil mempengaruhi pemikiran manusia dan membawa pokok-pokok ajaran akhlak yang tersebut dalam kitab Taurat dan Injil. Menurut agama ini bahwa Tuhan adalah sumber Akhlak. Tuhanlah yang menentukan dan membentuk patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan social kemasyarakatan. Tuhanlah yang menjelaskan arti baik dan buruk. Menurut agama ini bahwa yang disebut baik ialah perbuatan yang disukai Tuhan serta berusaha melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Dengan demikian ajaran akhlak pada agama Nasrani ini tampak bersifat teo-centri (memusat pada Tuhan) dan sufistik (bercorak batin). Karena itu tidaklah mengherankan jika ajaran akhlak agama Nasrani yang dibawa oleh para pendeta berdasarkan ajaran dalam kitab Taurat.
Selain itu agama Nasrani menghendaki agar manusia berusaha sungguh-sungguh mensucikan roh yang terdapat pada dirinya dari perbuatan dosa, baik dalam bentuk pemikiran maupun perbuatan. Dengan demikian agama ini menjadikan roh sebagai kekuasaan yang dominan terhadap diri manusia, yaitu suatu kekuasaan yang dapat mengalahkan hawa nafsu syahwat.
3. Ilmu Akhlak pada Bangsa Romawi
Kehidupan masyarakat Eropa di abad pertengahan dikuasai oleh gereja. Pada waktu itu gereja berusaha memerangi filsafat Yunani serta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan ”hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang diperintahkan wahyu tentu benar adanya. Mempergunakan filsafat boleh saja asalkan tidak bertentangan dengan doktrin yang dikeluarkan dari gereja.
Ajaran akhlak yang lahir pada saat ini (abad pertengahan) adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nasrani. Di antara mereka yang terkenal adalah Abelard, Perancis (1079-1142) dan Thomas Aquinas, Italy (1226-1274).
4. Ilmu Akhlak pada Bangsa Arab
Bangsa Arab mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan bangsa Yunani dan Romawi. Karena pada masa itu bangsa Arab memiliki ahli-ahli hikmah dn ahli syair. Di dalam kata-kata hikmah dan syair tersebut dapat dijumpai ajaran yang memerintahkan agar berbuat baik dan menjauhi suatu bentuk perbuatan yang mengarah kepada keburukan. Adapun ahli-ahli hikmah yang termashur pada zaman itu adalah Luqmanul Hakim, Aktsam bin Shaifi. Sedangkan ahli-ahli syair yang terkenal pada saat itu adalah Zuhair bin Abi Sulma dan Hakim al-Thai.
C. AKHLAK PADA AGAMA ISLAM
Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Akhlak harus ada serta terlihat pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.
Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Semua ini terkandung dalam ajaran al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW. Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak.
Al-Qur’an adalah sumber utama dan mata air yang memancarkan ajaran Islam. Hokum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai sumber yang aslinya di dalam al-Qur’an.[9]
Adalah amat jelas bahwa dalam al-Qur’an terdapt banyak ayat-ayat yang mengandung pokok-pokok akidah keagamaan, keutamaan akhlak dan prinsip-prinsip perbuatan.[10]
Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap apa yang ada di dunia ini.
Selain itu, agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan yang baik.
Sangatlah jelas bahwa dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang mengandung pokok-pokok akidah kegamaan, keutamaan akhlak dan prinsip-prinsip dan tata nilai perbuatan manusia. Mengenai pembinaan akhlak dapat dijelaskan pendapat Ath-Thabatabi sebagai berikut;
1. Pertama, menurut petunjuk al-Qur’an dalam hidupnya manusia hanya menuju kepada kebahagiaan, ketenangan dan pencapaian cita-citanya.
2. Kedua, perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia senantiasa berada dalam suatu kerangka peraturan dan hukum tertentu.
3. Ketiga, jalan hidup terbaik dan terkuat manusia adalah jalan hidup berdasarkan fitrah, bukan berdasarkan emosi dan dorongan hawa nafsu.
Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi-Nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an :
1. Nabi Ibrahim A.S
Nabi Ibrahim a.s. mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam menghadapi kezaliman. Ia pernah menghancurkan patung-patung yang menjadi tuhan Raja Namruz dan para pengikutnya, sehingga ia dibakar hidup-hidup.
Resiko perjuangan ditanggung sendiri oleh Nabi Ibrahim sehingga menjadi teladan bagi istri dan pengikutnya. Keberanian Nabi Ibrahim a.s. memberantas ajaran kemusrikan merupakan simbol penting dalam ajaran tauhid. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya pantang untuk berlaku syirik kepada Allah SWT.
2. Nabi Nuh A.S
Ujian Nabi Nuh a.s. cukup berat karena ia harus menghadapi kekufuran anaknya sendiri, yaitu Kan’an. Ia tidak putus asa mengajak dan menasehati anaknya, meskipun akhirnya anaknya mati tenggelam terbawa arus banjir yang luar biasa. Kisah itu adalah teladan bagi kita sebagai orangtua, untuk terus membimbing anak, dan sebaliknya, anak yang membimbing orangtua agar bersama-sama masuk surga.
3. Nabi Luth a.s.
Sikap Nabi Luth a.s. yang pantang menyerah walaupun ajarannya tidak diindahkan oleh umatnya sepatutnya menjadi teladan bagi kita, bahwa setiap melakukan kebajikan pasti kita akan mendapatkan suatu halangan bahkan kadang kala halangan ini menjadikan kita putus asa. Untuk itulah sikap pantang menyerah harus kita galakkan agar kita dapat menjalankan kebajikan di dalam kondisi apapun.
4. Nabi Ayyub a.s.
Nabi Ayyub a.s. adalah nabi yang sangat sabar karena ia diberi penyakit kulit yang cukup lama. Istrinya pun merawat dengan sabar. Istrinya pernah menyarankan agar nabi Ayyub a.s. meminta kepada Allah SWT untuk mencabut penyakitnya, tetapi ia merasa malu karena kenikmatan yang telah diberikan yang telah diberikan oleh Allah SWT masih terlampau besar dibandingkan dengan penyakit yang dideritanya. Kesabaran serta kesadaran nabi Ayyub yang luar biasa ini harus kita tiru dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Sehingga nantinya kehidupan kita diselimuti oleh rasa tenang dan selalu bersyukur dalam situasi apapun.
5. Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s. adalah seorang nabi yang sejak bayi telah dibuang oleh ibunya karena pada masa itu, jika ada seorang bayi laki-laki yang lahir, kemudian Fir’aun mengetahuinya, ia akan segera membunuhnya.
Singkat cerita akhirnya Nabi Musa a.s. menjadi anak angkat Fir’aun dikarenakan permintaan dari Istri Fir’aun untuk mengangkat anak yang ditemukannya menjadi anak angkatnya. Sesungguhnya, akhlak Nabi Musa a.s. sangat penting untuk ditiru, bagi penguasa yang kuat hendaknya menjadikan kekuatannya untuk membasmi kemunkaran dan kemaksiatan, bukan sebaliknya, digunakan untuk mendirikan pusat-pusat kejahatan, pelacuran, dan pembela kezaliman.
6. Nabi Isa a.s.
Nabi Isa a.s. adalah nabi yang penuh rasa cinta kasih kepada umatnya. Keahliannya digunakan untuk mengobati orang-orang yang miskin. Hendaknya, akhlak Nabi Isa a.s. ditiru oleh para dokter dan ahli kesehatan, juga oleh orang-orang kaya untuk membantu ekonomi orang-orang fakir dan miskin.
7. Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir, beliau mengalami suka duka yang sangat banyak. Beliau sudah menjadi yatim-piatu sejak kecil. Akhlaknya sangat mulia dan dikagumi oleh semua orang, bahkan oleh orang kafir Quraisy dan mendapatkan gelar Al-Amin (orang yang jujur dan terpecaya).
Nabi Muhammad SAW adalah penyebar kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Beliau sangat pemaaf meskipun kepada orang yang telah menyakitinya. Bahkan, beliau menengok orang yang setiap hari meludahinya. Beliau ditawari untuk meninggalkan dan mengingkari Allah SAW dengan harta yang berlimpah namun Nabi Muhammad SAW menolak mentah-mentah tawaran tersebut.
Akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai ayah dari anak-anaknya, suami dari istri-istrinya, komandan perang, mubaligh, imam, hakim, pedagang, petani, penggembala, dan sebagainya merupakan akhlak yang harus diteladani.
Dalam 100 tokoh yang tekemuka di dunia, Nabi Muhammad SAW menjadi/menduduki peringkat pertama, sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia. Beliau peletak dasar negara modern di Madinah yang merumuskan perjanjian yang adil ditengah-tengah masyarakat sukuistik dan pemeluk Yahudi dan Nasrani.
Pada hakikatnya Allah memiliki nama(sifat) yang banyak, dari segi akhlak hal ini hendaknya dapat mengunggah dan menolong pada orang yang mengetahui untuk merumuskan akhlak, tetapi sifat adil menempati posisi yang tinggi pada mazhab akhlak dan merupakan induk akhlak.[11]
D. AKHLAK PADA ZAMAN BARU
Akhlak pada zaman baru ini berkisar pada akhir abad ke-15 M, dimana Eropa mulai mengalami kebangkitan di bidang filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Akhlak yang mereka bangun didasarkan pada penyelidikan menurut kenyataan empirik dan tidak mengikuti gambaran-gambaran khayal atau keyakinan yang terdapat dalam ajaran agama. Sumber akhlak dari dogma dan doktrin agama mereka ganti dengan logika dan pengalaman empirik. Beberapa tokoh etika dalam masa ini di antaranya; Descartes, Shafesbury dan Hatshon, Bentham, Jhon Stuart Mill Kant dan Bertrand Russel. [12]
Descartes yang namanya disebutkan diatas adalah seorang ahli filsafat Perancis yang hidup antara 1596-1650 M. pandangannya mengenai akhlak sangat bersifat rasionalistik danempirik.
Selanjutnya Shafesbury dan Hatshson yang identitasnya belum dapat dijelaskan dalam uraian ini adalah tokoh yang memiliki pandangan akhlak yang bersifat anthropo-centris.
Dalam pada itu Bentham(1748-1832) dan john Stuart Mill(1906-1873) keduanya termasuk tokoh yang bnyak berpengaruh oleh pemikiran Epicurus dngan cara mengubahnya menjadi paham utilitarianism,yaitu paham yang semula didasarkan pada kebahagiaan yang bersifat individualistic kepada kebahagiaan yang bersifat universalistic. Pemikiran tentang akhlak ini selanjutnya dapat dijumpai pada Immanuel kant.
Salah satu ajaran penting tentang etika pada masa ini adalah bersumber pada intuisi yang diklasifikasikan menjadi empat, yaitu;
· Intuisi mencari hakikat atau mencari ilmu pengetahuan;
· Intuisi etika dan akhlak, yaitu cenderung kepada kebaikan;
· Itnuisi estetika yaitu cenderung kepada segala sesuatu yang mendatangkan keindahan, dan
· Intuisi agama yaitu perasaan meyakini adanya yang menguasai alam dengan segala isinya.
1. Akhlak Periode Yunani
Penyelidikan ahli-ahli filsafat Yunani kuno tidak banyak memperhatikan pada akhlak, kebanyakan penyelidikannya mengenai alam Socrates (469- 399 SM) dengan menghadapkan perhatiannya kepada penyelidikan di dalam akhlak dan hubungan manusia satu dengan lainnya.
Dia berpendapat bahwa yang seharusnya berpikir adalah perbuatan yang mengenai kehidupan. oleh karena itu, dikatakan “la menurunkan filsafat dari langit ke bumi”. Socrates sebagai pembangun (perintis) ilmu akhlak. la orang pertama yang berusaha dengan sungguh-sungguh, membentuk perhubungan manusia dengan dasar ilmu pengetahuan. Dia berpendapat bahwa akhlak dan bentuk perhubungan itu, tidak menjadi benar kecuali bila didasarkan kepada ilmu pengetahuan. Sehingga ia berpendapat bahwa “Keutamaan itu ialah ilmu”.
Golongan yang lahir sesudah Socrates ialah “Cynics” dan “Cyrenics”. Cynics adalah pembangun paham mereka ialah Antisthenes, yang hidup pada 444 – 370 SM. Di antara pemimpin paham ini yang terkenal ialah Diogenes, Cynics berpendapat bahwa kebahagiaan itu menyingkirkan kelezatan dan mengurangi sedapat mungkin. Cyrenics berpendapat bahwa kebahagiaan itu dalam mencapai kelezatan dan mengutamakannya.
Lalu datang Plato pada (427 – 347 SM). Dia seorang ahli tilsafat Athena, dan murid dari Socrates. Dia telah mengarang beberapa buku, yang masih terdapat dalam masa ini, dalam bentuk percakapan. Bukunya yang penting ialah buku “Republic”. Buah pikirannya dalam akhlak termuat dalam percakapan itu, bercampur dengan penyelidikannya mengenai filsafat. Pandangannya di dalam akhlak berdasar “teori contoh”. Jelasnya dia berpendapat bahwa di belakang alam lahir ini ada alam lain ialah alam rohani. Tiap-tiap keujudan berbadan, sebagai gambaran contoh yang tidak berbeda dalam alam rohani. Dia mencocokkan itu dengan akhlak, maka ia berkata: Di antara contoh ini adalah contoh untuk kebaikan. Yaitu arti yang mutlak, azali, kekal dan amat sempurna. Tiap-tiap bentuk perhubungan manusia itu dekat kepadanya dan beroleh sinar cahayanya, maka ia lebih dekat kepada kesempurnaan. Untuk memahamkan contoh ini, menghajatkan kepada latihan jiwa dan akal. Oleh karena itu, tidak akan mengetahui keutamaan di dalam bentuknya yang baik kecuali orang ahli fikir (ahli filsafat).
Plato berpendapat bahwa di dalam jiwa itu ada kekuatan bermacam-macam, dan keutamaan itu timbul dari perimbangan kekuatan itu dan tunduknya kepada hukum akal. Dia berpendapat bahwa pokok-pokok keutamaan itu ada empat:
a. Hikmah kebijaksanaan
b. Keberanian
c. Keperwiraan
d. Keadilan
Kemudian di susul oleh Aristoteles pada (394-322SM) dia menyelidiki dalam aklak dan mengarangnya .dia perpendapat bahwa tujuan berakhir yang di kehendaki oleh manusia mengenai segala perbuatan ialah “Bahagia”. Aristoteles datang “Stoics”dan “Epicuric” mereka berbeda penyelidikannya dalam akhlak.
Pada akhir abad ketiga Masehi, tersiarlah agama Nasrani di Erooa Agama itu dapat merubah pikiran manusia dan membawa pokok-pokok akhlak yang tersebut dalam Taurat. Demikian juga memberi pelajaran kepada manusia bahwa Tuhan sumber segala akhlak Tuhan Allah yang membikin segala patokan yang harus kita pelihara dalam bentuk perhubungan kita. dan yang menjelaskan arti baik dan arti jahat. perbedaan itu yang terpenting ialah mengenai dorongan jiwa buat melakukan perbuatan. Agama Nasrani mengharapkan kepada manusia supaya usaha dengan sungguh-sungguh untuk mensucikan dirinya, baik pikiran maupun perbuatannya.
2. Akhlak Periode Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan. Gereja memerangi filsafat Yunani dan Romawi dan menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno.Gereja berkeyakinan. bahwa kenyataan “hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang diperintahkan wahyu tentu benar tidak ada artinya lagi untuk menyelidiki tentang kenyataan (hakikat) itu.menguatkan keyakinan-keyakinan agama, batas-batasnya. Dan ketertibannya. Setengah pemimpin-pemimpin agama menyelidiki Aristoteles dan Stoics, untuk memperkuat ajaran masehi, dan mencocokannya dengan akal. Filsafat yang menentang agama Nasrani..
3. Akhlak Periode Bangsa Arab
Pada zaman Jahiliyah, bangsa Arab tidak mempunyai ahli-ahli filsafat yang mengajak ke-pada aliran paham tertentu. Pada waktu itu bangsa Arab hanya mempunyai ahli-ahli hikmat dan sebagian ahli-ahli syair, mereka memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, mendorong keutamaan dan menjauhkan dan kerendahan. Setelah datang agama Islam, ada ajakan agar orang-orang percaya bahwa Allah, Sumber segala sesuatu di seluruh alam
4. Akhlak Periode Abad Modern
Pada abad pertengahan ke 15 mulailah ahli-ahli pengetahuan menghidupsuburkan filsafat Yunani kuno. Dan mulai melihat segala sesuatu dengan pandangan baru, dan mempertimbangkannya dengan ukuran yang baru. Di antara yang mendapat kecaman dan penyelidikan ialah persoalan akhlak yang dibawa oleh bangsa Yunani dan bangsa-bangsa lain. Mereka suka menyelidiki akhlak menurut kenyataan dan tidak mengikuti gambaran-gambaran khayal, dan hendak melahirkan kekuatan yang ada pada manusia, dihubungkan dengan praktek hidup di dunia ini.
Ahli filsafat Perancis yaitu Descartes termasuk pendiri filsafat baru dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. la telah menciptakan dasar-dasar baru, di antaranya adalah:
a. Tidak menerima sesuatu yang belum diperiksa oleh akal dan nyata adanya.
b. Di dalam penyelidikan harus kita mulai dari yang sekecil-kecilnya yang semudah-mudahnya, lalu meningkat ke arah yang lebih banyak susunannya dan lebih dekat pengertiannya, sehingga tercapai tujuan kita.
c. Wajib bagi kita jangan menetapkan sesuatu hukum akan kebenaran sesuatu soal, sehingga menyatakannya dengan ujian.
Setelah keadaannya muncul Green (1836 – 1882) dan Herbert spencer (1820 – 1903). Keduanya mencocokkan paham pertumbuhan dan kemeningkatan (Evolution) atas akhlak, sebagaimana yang kita ketahui.
Para ahli ilmu pengetahuan “bangsa Jerman yang mempunyai, pengaruh besar dalam akhlak ialah Spinosa (1632-1677) dan Spinosa (1770 – 1831) dan Kant (1724 – 1831). Dari ahli akhlak yang terkenal dari bangsa Perancis ialah Cousin (1792 – 1867) dan August Comte (1798 – 1857). Dan sejak zaman John Stuart Mill (1873) dan Spencer (1903) hingga sekarang, penyelidikan mengenai akhlak hanya menjelaskan teori-teori
tersebut. Sehingga belum terdapat teori-teori baru, akan tetapi ahli- ahli ilmu pengetahuan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperluas teori itu dan mencocokkannya dengan praktek hidup.
[1] prof. Dr. H. Abbudin Nata, M.A., akhlak tasawuf,(Jakarta: Rajawali Pres.2009) hlm. 57
[2] t. Ibrahim dan H.darsono, membangun akidah dan akhlak, (solo: tiga serangkai.2009)
[3] Ahmad Amin, Ilmu Akhlak ( terj.) K.H. Farid Ma’ruf dari judul asli al-Akhlak, (Jakarta : Bulan Bintang,1975) cet.I,hlm.141
[4] M. Quaish Shihab, wawasan Al-Qur’an, halaman. 254.
[5] Ahmad Amin,op.cit,.hlm.141
[6] Ibid, hlm.142
[7] Ahmad Amin,op.cit.hlm.143
[8] Ibid,hlm.144.
[9] Allamah M.H.Thabathaba’I,mengungkapkan Rahasia al-Qur’an,(terj.) A, Malik Madany dan Hamim Ilyas dari judul asli al-Qur’an fi al-Islam,(Bandung:Mizan,1990),cet,III,hlm.21
[10] Ibid,hlm.21
[11] Ahmad Mahmud Shubhi, al-Akhlakiyah fi al-Firk al-Islamy,(Mesir:Dar al-Ma’arif,tt)cet.II,hlm.48
[12] Ahmad Amin,loc-cit,hlm.150-151.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar